Keadilan

Keadilan untuk ‘Pengambilan Keputusan’

Ada jalan yang repot dan padat di muka rumah saya. Saya memakai jalan ini terkadang mengemudikan mobil saya dan terkadang jalan kaki. Setiap saya mengemudikan mobil saya dan tergesa-gesa (yang tersering terjadi), saya berpikiran, “kenapa demikian beberapa orang berjalan pada jalan ini? Tidak dapatkah beberapa orang ini duduk di dalam rumah sebagai tukar merayap / berkerubung di sini? Bila seorang tiba di muka mobil saya mendadak, saya melecehkannya dengan kosa kata terbaik yang saya dalami. Penyimpangan ini mayoritas diam dalam pemikiran saya, yang cuma dapat saya dengar, tapi terkadang, itu keluar dengan keras dan terang.

Tapi setiap saya berjalan pada jalan yang serupa, saluran pemikiran saya mengucur ke yang bersimpangan. “kenapa beberapa orang yang memakai kendaraan ini tidak mempunyai kesabaran benar-benar? Apa tergesa-gesa? Apa dunia akan kiamat?” saat beberapa kendaraan sentuh saya atau orang berjalan kaki yang lain, pelanggaran dalam pemikiran mulai terpacu.

Lifer semacam itu. Penglihatan kita berbeda sesuai peranan/affiliate kita, yang bisa berbeda setiap waktu. Kadang kita bersama pemerintahan dan kadang dengan oposisi. Kadang kami ialah client dan kadang jual gagasan/produk kami. Terkadang kita pegawai dan terkadang bos. Kadang kita jadi orangtua dan kadang kita jadi anak-anak. Apa saja peranan yang kita permainkan, kita condong menunjukkan faksi musuh salah dengan nalar kita, hingga pendirian kita dapat kelihatan ‘benar’. Tetapi apa itu penting?

Bias pada peranan yang kita permainkan di saat tertentu ialah lumrah. Tetapi menempel kepadanya dan jadi terlampau bias jadi penghambat dalam arus kehidupan. ‘Bias status untuk mempunyai status/peranan dalam warga’ ialah dosa yang tersering dilaksanakan tanpa diakui.

Anda kemungkinan menanyakan, “kenapa saya harus repot mengenai hal tersebut benar-benar?” Kapan saja Anda ialah pengambil keputusan dan keputusan Anda memengaruhi seseorang, faktor ini jadi penting dan Anda harus memerhatikannya. Bila Anda ialah CEO atau management pucuk, Anda kemungkinan mempunyai kemewahan untuk minta presentasi dari staff Anda dan dengan begitu terima semua saran saat sebelum memutuskan/ambil peraturan yang imbang. Tapi orang biasa tidak memperoleh kemewahan ini dan kerap jadi mangsa sindrom bias diri ini. Waktu untuk ambil kebanyakan keputusan di kehidupan setiap hari dan tersedianya semua saran terbatas untuk orang biasa seperti saya dan Anda (seorang seperti saya yang sudah membuat artikel ini dan seorang seperti Anda yang membacanya).

Mempunyai penglihatan yang tidak berpihak dalam ‘pengambilan keputusan’ yang krisis/penting ialah kunci ke arah kehidupan yang berbahagia, tidak pada waktu itu, tapi juga untuk saat mendatang. Piranti ketrampilan ini tidak begitu susah untuk diperkembangkan dan banyak tehnik meditasi ada untuk ini.

Untuk hilangkan batas ini, satu praktek semacam itu dianjurkan di sini. Peroleh waktu/tempat tanpa masalah, tiba ke status rileks dan jadi saksi proses berpikiran Anda. Diamkan ini tiba, pergi dan berakhir. Tidak boleh mengategorikan jadi baik atau jelek. Gerakan pemikiran yang berputar-putar akan konstan dan pada akhirannya akan ke arah pada ‘situasi hampa’ bila kita lakukan ritus ini. Ini bisa dilaksanakan tiap hari sepanjang beberapa saat sebelumnya. Latihan berulang-ulang akan menolong dalam meningkatkan sikap yang imbang. Saat kita melihat kita beradegan dalam sinetron kehidupan dengan sikap yang tidak berpihak, kita tak perlu menunjukkan seseorang salah untuk menunjukkan kita betul. Keputusan yang diambil dengan sikap ini ialah kombinasi prima di antara nalar dan hati dan sesuai selera dan tingkat kenyamanan kita.

Leave a Comment